Minggu, 11 April 2021

Azab mengerikan akibat sering menggunjing atau gosipin tetangga


 membicarakan keburukan orang lain tergolong dosa besar.

Tidak bisa dipungkiri manusia sering kali khilaf membicarakan kesalahan atau gosip orang di sekitarnya tanpa disadarinya. Mulut kit terkadang tidak terkontrol saat membicarakan orang lain di belakang atau sekadar mengeluhkan sesuatu.


Gosip atau yang biasa dikenal dengan ghibah, kini sering kali jadi perkara yang banyak dilakukan orang. Ketika sedang asyik berkumpul, terkadang kita lupa bahwa sedang menggunjing seseorang.

Terlebih bahan gosip bisa diakses dengan mudah di segala media, mulai dari televisi sampai media sosial. Bergosip seolah-olah menjadi kebiasaan di tengah masyarakat.


Padahal nyatanya, membicarakan apalagi sampai mencemarkan nama baik seorang muslim yang tidak mereka sukai merupakan kemungkaran yang besar dan termasuk ghibah yang diharamkan bahkan termasuk dosa besar, berdasarkan firman Allah.

Dan janganlah sebagian kalian ghibah (menggunjing) sebagian yang lain. Sukakah salah seorang diantara kamu memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka tentulah kalian akan merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat dan Maha Penyayang.” (Al-Hujurat/49: 12)


Berdasarkan firman Allah SWT tersebut, orang yang menggunjing diibaratkan dengan memakan daging saudaranya yang sudah mati. Hal ini dinilai merupakan dosa besar, yang harus dihindari setiap muslimin.

Apa yang Dimaksud Dengan Ghibah ?

Ghibah (menggunjing) termasuk dosa besar, namun sedikit yang mau menyadari hal ini. Seorang ulama tafsir, Imam Masruq, menjelaskan, “ Ghibah adalah jika engkau membicarakan sesuatu yang jelek pada seseorang. Itu disebut mengghibah atau menggunjingnya. Jika yang dibicarakan adalah sesuatu yang tidak benar ada padanya, maka itu berarti menfitnah (menuduh tanpa bukti).” Demikian pula dikatakan oleh Imam Hasan Al Bashri Rahimahullah.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “ Tahukah engkau apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “ Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.” Ia berkata, “ Engkau menyebutkan kejelekan saudaramu yang ia tidak suka untuk didengarkan orang lain.” Beliau ditanya, “ Bagaimana jika yang disebutkan sesuai kenyataan?” Jawab Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam, “ Jika sesuai kenyataan berarti engkau telah mengghibahnya. Jika tidak sesuai, berarti engkau telah memfitnahnya.” (HR. Muslim)

Seberapa Berat Ancaman dan Dosa Bagi Pelaku Ghibah?


Diriwayatkan, pada zaman Rasulullah SAW bila ada orang yang berbuat ghibah, maka siksanya langsung diperlihatkan, sebagaimana yang terjadi pada dua orang wanita yang diperintah olehnya untuk memuntahkan darah kental dari mulutnya setelah menggunjing saudaranya.


Seiring banyaknya orang menggunjing, seperti sekarang ini, siksaan itu pun tak lagi diperlihatkan. Terlebih dosa besar itu sudah dianggap sebagai hal biasa dan lumrah terjadi.


Padahal, Rasulullah SAW sudah menyatakan bahwa dosa ghibah berat dari dosa zina,

Ghibah itu lebih berat dari zina. Seorang sahabat bertanya, ‘Bagaimana bisa?’ Rasulullah SAW menjelaskan, ‘Seorang laki-laki yang berzina lalu bertobat, maka Allah bisa langsung menerima tobatnya. Namun pelaku ghibah tidak akan diampuni sampai dimaafkan oleh orang yang dighibahnya,” (HR At-Thabrani).


Tak hanya itu, diriwayatkan bahwa Allah pernah berfirman kepada Nabi Musa AS,


“ Siapa saja yang meninggal dunia dalam keadaan bertaubat dari perbuatan ghibah, maka dia adalah orang terakhir masuk surga. Dan siapa saja yang meninggal dalam keadaan terbiasa berbuat ghibah, maka dia adalah orang yang paling awal masuk neraka.”


Lebih bahaya lagi, kelak di akhirat orang yang suka ghibah akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah oleh orang yang dighibahnya. Amal kebaikannya dibayarkan kepada orang-orang yang pernah dizaliminya, termasuk kepada orang yang telah dighibahnya. Setelah amal kebaikannya habis, amal keburukan orang-orang yang dizaliminya ditimpakan kepada dirinya.


Akibatnya, dia akan menjadi orang yang bangkrut, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah SAW dalam hadits berikut ini.

Suatu hari, Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabat, “ Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut?” Mereka menjawab, “ Orang yang bangkrut di tengah kami adalah orang yang sudah tidak memiliki dirham dan harta benda lain.”


Ia menjelaskan, “ Orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari Kiamat membawa amal shalat, amal zakat, amal puasa, namun dia pernah mencaci si ini, menuduh si ini, makan harta si sini, menumpahkan darah si ini, memukul si ini sehingga yang ini dibayar dengan kebaikannya dan yang ini dibayar dengan kebaikannya. Setelah kebaikan-kebaikannya habis sebelum semua kezaliman terbayar, maka diambillah keburukan-keburukan mereka yang pernah dizaliminya lalu ditimpakan kepada dirinya. Akibatnya, dia dilemparkan ke dalam neraka.”


Nauzubillahimdzalik

Share:

0 komentar:

Posting Komentar