This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Sabtu, 06 Maret 2021

Viral Aksi Vulgar Pedangdut Buka BH Demi Saweran, Biduan Ini Terancam Penjara 10 Tahun!

Tanpa diketahui oleh sang biduan, ada penonton yang merekam dan menyebarkan aksinya lewat grup Whatsapp.

Acara dangdut yang dihiasi oleh biduan dengan aksi-aksi yang terkadang vulgar memang sudah menjadi kultur di masyarakat Indonesia. Akan tetapi, aksi vulgar pun tetap ada batasnya jika tidak mau berurusan dengan aparat hukum.


Tidak dapat dimungkiri bahwa orang-orang yang datang untuk menonton biduan tentunya tidak akan bermasalah dengan aksi vulgar yang ditampilkan. Justru semakin vulgar, maka penonton pun akan semakin senang.


Namun, di zaman seperti sekarang ini, jejak digital dapat dengan mudahnya tersebar ke pelbagai khalayak sehingga aksi yang dianggap tidak senonoh pun akan lebih mudah untuk dilaporkan. 

Dilansir dari Grid.id, seorang biduan di Sulawesi Selatan harus mempertanggungjawabkan dirinya di meja hukum karena aksinya yang dianggap tidak senonoh saat sedang di atas panggung.


Biduan dengan inisial ICS ini melakukan tari candoleng-doleng, yakni sebuah tarian erotis tanpa busana. Meski hiburan yang menampilkan candoleng-doleng seringkali menuai kontroversi, namun hiburan ini tetap jadi konsumsi yang diminati oleh masyarakat.

Acara yang menuai kontroversi itu diselanggarakan pada hari Minggu. Tanpa mengantongi izin dari Polres Barru, acara itu berlangsung dengan melibatkan biduan-biduan, termasuk ICS, yang secara bergantian mengonsumsi minuman keras di tengah aksi mereka.


Saat ICS sedang mendapat giliran bernyanyi, ada seorang penonton yang meminta supaya wanita berusia 24 tahun itu membuka baju. Tanpa tedeng aling-aling, ICS pun membuka baju beserta BH-nya untuk memperoleh saweran. Aksi itu pun sontak membuat penonton heboh.

Tanpa disadari oleh ICS, rupanya ada penonton yang merekam aksinya di ponsel. Lalu, video yang direkam itu pun tersebar melalui WhatsApp sehingga dilihat oleh banyak orang. Berkat video itulah, pihak kepolisian mendapatkan bukti yang memperkuat dakwaan terhadap ICS.


Selain itu, tank top dan BH yang digunakan oleh ICS turut diamankan sebagai barang bukti. ICS dikenakan dakwaan atas pelanggaran terhadap pasal pornoaksi dan pornografi.


Dia pun terancam hukuman maksimal 10 tahun penjara serta denda berjumlah 5 miliar rupiah. Sementara itu, orang yang menyebarkan video untuk pertama kali pun akan diperiksa oleh pihak kepolisian.


 

Share:

Jumat, 05 Maret 2021

Minta Dibelikan Mobil Tak Dituruti, Anák di Jember Aniaya Ibu Kandung

Seorang anak di Jember, Jawa Timur, tega menganiaya ibu kandungnya sendiri lantaran permintaan dibelikan mobil tidak dituruti.

SuaraJatim.id - Seorang anak di Jember, Jawa Timur, tega menganiaya ibu kandungnya sendiri lantaran permintaan dibelikan mobil tidak dituruti. Pria ini bernama Kusdi Pramono, warga Kecamatan Kencong. Sementara ibunya bernama Rubiati.

Karena kejam menganiaya ibu kandungnya sendiri, kini Kusdi harus berurusan dengan kepolisian. Kejadian keji dan tidak manusiawi ini terjadi pada Sabtu, (27/2) pagi lantaran sebelumnya pelaku meminta paksa ibunya untuk membelikan sebuah Mobil.


Rubiati tidak bisa menuruti permintaan anaknya itu lantaran uang tabungan belum cukup. Kusdi lantas mengamuk yang berbuntut pada tindakan penganiayaan ibu kandungnya sendiri dengan cara membenturkan muka ibunya berulang ulang ke almari kaca.


Akibatnya, ibu kandung korban tergeletak bersimbah darah dengan luka di wajah dan tangan juga luka akibat terkena pecahan kaca. Korban lantas dibawa ke Puskesmas Kencong guna untuk perawatan intensif akibat luka tersebut.

Pihak Mapolsek kencong yang menerima laporan terjadinya tindakan aniaya tersebut langsung mendatangi lokasi dan menangkap yang bersangkutan untuk proses hukum lebih lanjut.


"Kita amankan pelaku kita interogasi dirinya mengaku jika hendak meminjam uang ke ibu nya untuk membeli mobil dan ibunya bukan tidak menuruti namun uang memang belum ada dan yang bersangkutan mengamuk dan berkunjung aniaya ini," ujar Kanit Reskrim Mapolsek Kencong Aiptu Iwan Iswahyudi, dikutip dari suarajatimpost.com, jejaring media suara.com.


Iwan juga mengungkapkan jika pelaku ini tidak tinggal serumah dengan ibu nya karena yang bersangkutan sudah berkeluarga sendiri, dalam kasus ini pelaku akan di jerat dengan pasal 351 tentang aniaya.


 

Share:

Minggu, 28 Februari 2021

Akhir Zaman, Tradisi Turun Menurun Untuk Malam Pertama Harus Disaksikan Oleh Keluarga Besar


Sungguh aneh tapi peristiwa ini nyata-nyata terjadi: tradisi sebuah keluarga yang menonton kerabatnya saat berhubungan seks pertama kalinya.


Pengguna sosial media di Singapura dihebohkan dengan beredarnya foto adegan berhubung*n s*ks yang ditonton beramai-ramai oleh sebuah keluarga. Peristiwa ini terjadi di sebuah rumah di Woodlands New Town, Singapura, beberapa waktu lalu.


Foto yang diunggah oleh salah satu anggota keluarga yang menyaksikan adegan berhubung*n s*ks pertamanya salah satu kerabatnya ini bak virus. Foto langsung viral dan memperoleh ribuan komentar dari netizen.

Foto yang beredar itu memang menggambarkan adegan yang sangat vulg*r, seorang perempuan dan laki-laki tel*nj*ng bulat yang sedang berhubung*n s*ks dengan perempuan, sementara anggota keluarga yang lain menontonnya.


Menurut salah satu paman yang memotret adegan ini, ini bukanlah hal yang tabu. Di keluarga besarnya memang ada tradisi yang sudah lama mereka lakukan, yakni siapa pun kerabatnya yang baru pertama kali melakukan hubung*n s*ks, keluarga besar akan menonton bersama.

"Kebanyakan orang menganggap itu aneh, tapi pada keluarga kami tak ada yang lebih membanggakan dibanding merayakan kebahagiaan anak, saudara, atau keponakan yang berhubung"n s*ks untuk pertama kalinya," tulis sang paman.

"Kami melihatnya hal ini sebagai perjalanan awal untuk menjadi dewasa," tambahnya. Ia mengaku, dulu ia juga mengalami hal yang sama. Saat itu ia mengalami kesulitan saat berhubungan seks pertama kali dengan pacarnya. Namun saat itu ibunya membantu, memberi nasihat, sehingga hubungan s*ksnya untuk pertama kali bisa lancar.


Respon netizen sangat beragam. Salah satu netizen menganggap itu perbuatan cabul dan menjijikkan. 

S*ks adalah sesuatu yang sakral dan seharusnya dilakukan tertutup tanpa orang tua atau kerabat yang bisa melihat. Yang lain menganggap itu hal yang biasa, demi masa depan anak yang bersangkutan. (liputan6.com)

Share:

Sabtu, 27 Februari 2021

Desa Ini Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau, Pemerintah Lepas Tangan !

 

Desa Ini Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau, Pemerintah Lepas Tangan !


Desa ini memiliki 3.000 istri yang kompak menjanda.


Mereka menjanda setelah para suami mereka diklaim tewas di dalam hutan.


Wanita-wanita itu menyatakan suami mereka tewas jadi mangsa harimau.


Para istri ini tinggal di sebuah desa di South 24 Parganas, West Bengal, India,


sebagaimana dilansir dari The Irish Sun, Rabu (23/2/2021).


Mereka mengaku, para suami mereka dianiaya sampai mati oleh harimau,


ketika berkelana ke dalam hutan untuk menangkap ikan, kepiting serta mengumpulkan madu.


Presiden Forum Dakshinbanga Matsyajibi, Pradip Chatterjee mengatakan kepada Vice News,


bahwa ada sekitar 3.000 wanita yang menjadi janda di desa tersebut.


Chatterjee berujar, para suami di desa tersebut tewas karena dibunuh oleh harimau.


Serangan harimau sering dilaporkan terjadi.


Bahkan pada April 2020, penduduk desa melaporkan setidaknya ada 60 serangan harimau di daerah itu.


Serangan harimau semakin meningkat ketika para pria berbondong-bondong pulang kampung ke daerah tersebut setelah merantau ke kota-kota besar.


Chatterjee mengatakan, para pria melepaskan pekerjaan mereka sebagai buruh di kota dan pulang kampung ke daerah itu agar bisa bekerja di dalam hutan.


Tergiur upah besar


Mereka tergiur karena bekerja di hutan dapat menghasilkan hingga 700 rupee (Rp 136.000) dalam sehari,


dibandingkan pendapatan sebagai pekerjaan buruh yang hanya 200 rupee (Rp 39.000).


Mereka kemudian memasuki area terlarang,


menempatkan diri mereka dalam bahaya diserang harimau bengal yang terancam punah.


Dan bakau di hutan merupakan habitat penting bagi harimau.


Kasus dugaan mesum yang melibatkan IL (33), seorang Imam Kampung di Tangsilama, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang dengan LI (39), janda beranak empat berakhir di pelaminan

Kasus dugaan mesum yang melibatkan IL (33), seorang Imam Kampung di Tangsilama, Kecamatan Seruway, Aceh Tamiang dengan LI (39), janda beranak empat berakhir di pelaminan (Serambinews.com/Istimewa)

Dari 60.000 pekerja di hutan, Chatterjee mengatakan bahwa hanya seperempat dari mereka yang memiliki izin untuk bekerja.


Oleh karena itu, orang-orang yang tidak memiliki izin bekerja dianggap sebagai pekerja ilegal.


Para istri mendadak janda takut melapor jika ada serangan harimau yang mematikan.


"Mereka tidak meminta kompensasi karena takut akan tindakan hukum.


Mereka bahkan takut melaporkan kematian," ujar Chatterjee.


Dianggap ilegal


Para suami yang pulang kampung, kerja demi upah besar itu kini dianggap ilegal.


Para istri mendadak janda pun hanya bisa gigit jari.


Sebab, pemerintah setempat mengangap para suami yang jadi korban terkaman harimau sebagai pekerja ilegal.


Harimau masuk pemukiman di sebuah desa di Petaling Jaya, kota dekat Kuala Lumpur, viral di media sosial.

Harimau masuk pemukiman di sebuah desa di Petaling Jaya, kota dekat Kuala Lumpur, viral di media sosial. (screengrab)

Direktur Lapangan Suaka Harimau Sundarban Tapas Das mengatakan hanya mendapat laporan sebanyak 21 kematian resmi akibat penyerangan harimau.


Dari 21 laporan tersebut, hanya empat yang memenuhi syarat untuk mendapatkan kompensasi.


Pemerintah India hanya memberikan kompensasi jika kematian terjadi di luar zona larangan masuk.


Salah satu janda, Haridasi Mandal menceritakan bahwa suaminya, Haren (46), dibunuh oleh harimau pada 2014.


Dia mengatakan, putra tertuanya kini juga mulai bekerja di daerah yang sama.


Oleh karena itu, Haridasi sekarang hidup dengan rasa takut kehilangan anggota keluarga lain yang pergi ke hutan.


Janda lain, Sulata Mandal (35) bertutur bahwa suaminya, Sujit, tewas saat memancing pada April 2020.


"Anak-anak saya membuatku berjanji untuk tidak pernah pergi ke hutan lagi.


Tetapi penghasilan saya sekarang sangat sedikit dengan melakukan pekerjaan serabutan ini," turut Sulata.


"Kecuali saya tidak menemukan pilihan lain untuk menghasilkan cukup uang untuk menjalankan rumah,


saya harus kembali ke hutan," imbuh Sulata.


Menurut pemerintah India, sekitar 40 hingga 50 orang tewas akibat serangan harimau setiap tahunnya.


Artikel ini sudah tayang di Kompas.com dengan judul Kisah Desa yang Dihuni 3.000 Janda, Para Suami Tewas Diterkam Harimau



Share:

Rabu, 24 Februari 2021

Ustaz Ujang Bustomi Enggak Bisa Kabur Lagi, Sudah Dikepung TNI dan Polri


 Pimpinan Padepokan Anti-Galau, Cirebon Jawa Barat Ustaz Ujang Bustomi tak bisa kabur saat rombongan TNI dan Polri, serta dinas kesehatan mendatangi kediamannya.

 

Padahal, Senin (22/2) kemarin itu, Ustaz Ujang baru bangun tidur.

Beberapa di antara rombongan yang mengunjungi kediaman Ustaz Ujang menggunakan APD dan langsung mencecar dia dengan belasan pertanyaan.


Ustaz Ujang pun duduk sambil mendengarkan perwakilan rombongan yang datang ke padepokannya.


Ya, kali ini Ustaz Ujang Bustomi harus disuntik vaksin Covid-19 Sinovac dosis kedua.


Mestinya dia diberikan dosis tahap kedua pada pekan lalu.


Namun karena saat itu kondisinya tidak fit maka proses pemberiannya diundur dan baru dilaksanakan Senin (22/2).


"Waduh dikepung nih, enggak bisa kabur lagi," kata Ustaz Ujang, seperti dilansir dari radarcirebon.com.


Suasana pun cair seketika. Ustaz Ujang menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh petugas.


Ustaz pun dengan khasnya menjawab semua pertanyaan petugas sambil diselingi humor dan guyonan.


"Saya penyakit bawaan tidak ada, tetapi kalau yang dirasakan sih setiap bangun tidur pasti tegang," kata ustaz yang langsung disambut tawa seluruh petugas yang hadir.

 

Pada vaksinasi kali ini, Ustaz Ujang lebih santai.


Dia tidak sampai harus dipegang beberapa orang seperti pada vaksinasi dosis pertama.

Kali ini Ustaz Ujang terlihat tenang dan beberapa kali sempat bergurau dengan petugas kesehatan.


“Saya biasa nyuntik sekarang disuntik, setelah ini ada suntik lagi enggak nih," katanya.


Sementara itu, Kadinkes Kabupaten Cirebon Hj Eni Suhaeni SKM MKes mengatakan vaksinasi dosis kedua Ustaz Ujang agak terlambat dari jadwal.


Sebab, pada saat skrining dosis kedua minggu lalu kondisi kesehatannya kurang fit.


"Akhirnya diundur, dan baru bisa dilaksanakan sekarang setelah lulus skrining dan lolos pemeriksaan kesehatan,” ungkapnya. 

Share:

Minggu, 21 Februari 2021

Sekeluarga Tewas Kelaparan, Petugas Temukan Surat 'Doakan Kami, Izinkan Kami Mati di Sini'

 

Sekeluarga Tewas Kelaparan, Petugas Temukan Surat 'Doakan Kami, Izinkan Kami Mati di Sini'.


Jenazah delapan orang yang masih satu keluarga ditemukan tak bernyawa di gurun.


Mereka diyakini tewas karena kelaparan dan kehausan, saat ditemukan petugas.


Saat berada di lokasi kejadian petugas mendapati surat berisi kata-kata terakhir.


Foto-foto mereka juga beredar di media sosial dan menunjukkan jasad kedelapan orang itu bergelimpangan.


Seorang penarik becak di Penang tampak kelaparan dan makan di tempat terbuka, saat social distancing dan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona (Covid-19) diberlakukan di Malaysia. Ilustrasi

Seorang penarik becak di Penang tampak kelaparan dan makan di tempat terbuka, saat social distancing dan lockdown untuk mengantisipasi penyebaran wabah virus corona (Covid-19) diberlakukan di Malaysia. Ilustrasi (THE STAR)

Jasad bergelimpangan bersama barang-barang yang berceceran di sekitar mobil yang sebangian terkubur pasir.


Diwartakan Oman Observer pada Ahad (14/2/2021), keluarga malang itu tewas di gurun pasir Libya.


Mereka diyakini kelaparan usai tersesat.


Menurut laporan sejumlah media, 21 orang termasuk anak-anak mengungsi dengan mobil SUV Toyota Sequoia.


Mobil itu ditemukan sudah terbengkalai tak berpenumpang, sekitar 400 km barat daya kota Kufra, Libya.


Yuli menangis saat membagikan cerita keluarganya yang kelaparan karena terdampak pandemi corona. Beberapa waktu kemudian, Yuli dikabarkan meninggal dunia saat dibawa ke Puskesmas. Ilustrasi

Yuli menangis saat membagikan cerita keluarganya yang kelaparan karena terdampak pandemi corona. Beberapa waktu kemudian, Yuli dikabarkan meninggal dunia saat dibawa ke Puskesmas. Ilustrasi (KompasTV)

Polisi yang sedang berpatroli di kawasan tersebut menemukan jasad tiga wanita dan lima pria,

 

sedangkan nasib 13 orang lainnya tidak diketahui.


Penyelidikan dari polisi Libya menemukan, keluarga itu berangkat dari El Fasher di Sudan,


Individu yang Lahir pada 1941-1981 Dapat Mengklaim Hadiah ini di Sumatera Selatan

Survey Compare

by TaboolaSponsored Links

menuju Kufra di Libya pada Agustus tahun lalu dan tersesat.


Namun, mobil itu baru ditemukan pekan lalu bersama surat kata-kata terakhir.


Lima tahanan yang kabur akhirnya diringkus di pegunungan saat kelaparan. Ilustrasi

Lima tahanan yang kabur akhirnya diringkus di pegunungan saat kelaparan. Ilustrasi (KOMPAS.com/ JUNAEDI)

"Kepada siapa pun yang menemukan surat ini, ini nomor telepon saudara laki-laki saya, Muhammad Saifuddin," bunyi kalimat di surat itu.


"Maaf Bu karena tidak bisa menghubungi dirimu.


Ayah dan Nasir, aku mencintaimu.


Doakan kami, izinkan kami mati di sini," demikian bunyi surat tersebut.


Beberapa laporan menyebutkan, tragedi seperti ini bukan yang pertama


Sebelunya sudah ada ratusan orang yang kehilangan nyawa saat mengungsi dari daerah konflik tersebut.

Share:

Sabtu, 20 Februari 2021

Miris, empat ibu-ibu dan dua balita dipenjara




Komisi IV DPRD Loteng mendatangi Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) untuk menjenguk sekaligus mempertanyakan kejelasan proses penahanan Empat orang Ibu Rumah Tangga (IRT) asal Desa Wajegeseng Kecamatan Kopang.


Empat orang IRT ditahan lantaran dituduh melakukan pengerusakan dengan melemparkan batu ke gedung milik pengusaha tembakau.


Ketua Komisi IV DPRD Loteng, H Supli SH mengaku, kedatangannya itu atas dasar kemanusiaan karena ada laporan masuk ke Komisi bahwa ada Empat orang IRT diproses hukum dan ditahan Kejaksaan.


Padahal lanjutnya, dua diantara IRT itu memiliki anak balita yang usianya sekitar satu tahun ikut ditahan bersama ibunya lantaran dituduh melakukan pengerusakan gudang rokok dengan cara melempar batu.


“Kami terkejut dan miris mendengarkan laporan itu, akhirnya kami memutuskan turun mencari tahu permasalahan sebenarnya, mulai dari Polsek Kopang,” ungkapnya, Kamis 18 Februari 2021.


Supli mengungkapkan, setelah di Polsek, informasi diterimanya bahwa Empat IRT bersama dua Balitanya sudah dipindah ke Kejaksaan dan mempertanyakan alasan sampai dilakukan penahanan itu.


“Miris rasanya, Ibu Rumah Tangga dan ada dua Balita ditahan,” kata dia.


Dikatakan Supli, mestinya IRT itu tidak mesti ditahan, kalau mengacu arahan Kapolri yang terbaru bahwa, Polsek itu menjadi tempat mediasi kedua belah pihak agar persoalan tidak sampai keranah hukum. Malah dirinya melihat berbanding terbalik cara penanganan kasus di Lombok Tengah.


“Harusnya kedua belah pihak di mediasi tingkat Polsek sesuai arahan Kapolri, bukan lantas langsung memeroses kasus itu,” keluhnya.


Kerena sudah masuk Kejaksaan, Komisi IV DPRD Loteng akan mengawal kasus ini bahkan turun mencari informasi tentang duduk persoalan awal. “Mulai besok pagi kami akan kawal kasus ini dan akan turun TKP mencari duduk persoalannya,” tegas Politisi PKS ini.


Dikatakan Supil, Komisi yang membidangi Kesehatan, Ketenagakerjaan dan Perempuan akan konsen pada tiga persoalan itu karena menurut informasi yang diterimanya bahwa pabrik itu menimbulkan volusi yang tentu berkaitan dengan kesehatan masyarakat.


Selain itu perusahan gudang rokok tersebut disinyalir mendatangkan pekerja yang bukan dari masyarakat setempat. Artinya persoalan ini berkaitan dengan ketenagakerjaan.


“Sesuai tufoksi kami, akan mulai menggali informasi dari tiga pokok itu,” terang Supli.


Terkait hal itu, Kasi Intel Kejari Loteng Catur Hidayat Putra, menjelaskan, keterangan dari Polres Loteng bahwa kedua belah pihak sudah dimediasi. Tetapi, tidak menemukan kata sepakat atau tidak mau berdamai.


Disatu sisi, Vidya, Jaksa Fungsional Kejari Loteng menyampaikan, telah menyarankan agar keempat IRT itu tidak ditahan dan menyarankan untuk dibuatkan penangguhan penahanan dengan jaminan Kepala Desa atau BPD setempat atau salah suami dari terdakwa. Akan tetapi, sampai batas jam kerja belum ada satu pun yang datang sebagai jaminan.


“Karena tidak ada yang mengajukan penangguhan, iya kami melakukan penahanan,” ujar Vidya


Terpisah Kasat Reskrim AKP I Putu Agus Indra Permana menjelaskan, kedua belah pihak sudah diberikan ruang mediasi tetapi tidak ada titik temu.


“Mohon maaf karena persoalan ini sudah di tangani Kejari Loteng, jadi saya tidak berani berkomentar terlalu jauh, intinya mereka sudah diberikan ruang mediasi,” tutupnya.


Adapun nama-nama Ibu Rumah Tangga yang ditahan itu yakni, Nurul Hidayah (38), Martini (22), Fatimah (38) dan Hultiah (40). Mereka merupakan warga Dusun Eat Nyiur Desa Wajageseng Kecamatan Kopang Loteng dan mereka ini diancam pasal 170 KUHP ayat 1, ancaman pidana 5 sampai 7 tahun kurungan penjara. 

Share: